Kitab NURUL MUSHTHOFA Karya Alhabib Murtadlo bin Abdulloh Alkaaf Jilid 2 (part 1 of 3)

Sebelumnya:

Kitab NURUL MUSHTHOFA Karya Alhabib Murtadlo bin Abdulloh Alkaaf Jilid 1 (part 1 of 2)

Kitab NURUL MUSHTHOFA Karya Alhabib Murtadlo bin Abdulloh Alkaaf Jilid 1 (part 2 of 2)

 

NURUL MUSHTHOFA Karya Alhabib Murtadlo Bin Abdulloh Alkaaf.

Jilid ll - (Part 1 of 3) Tentang kehidupan Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wassalam

Dalam kitab  NURUL-MUSHTHOFA II ini, kami akan melanjutkan sebagian dari kisah suci kehidupan Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam yang mana kita para pecinta Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam tentunya sangat haus dan rindu untuk mengenal seluruh kepribadian dan keagungan Beliau junjungan kita kekasih Allah SWT Baginda  Nabi Agung Mumammad Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam, yang mana keagungan dan kemuliaanya sangatlah nyata dan terang benderang melebihi matahari.

Alangkah mulia dan agungnya Engkau wahai Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam. Engkaulah makhluk yang sangat dicintai oleh Allah SWT Dzat yang menguasai alam semesta. Engkaulah makhluk pertama yang diciptakan Allah SWT dari cahaya, dan adanya kami semua bahkan seluruh alam semesta adalah  semata-mata demi kasih sayang Allah SWT kepadamu wahai Nabi yang penuh dengan keberkahan. 

Alangkah mulia dan agungnya kedudukan Engkau di Sisi Allah SWT, wahai Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam. Tiada satupun Para Nabi dan Rasul berwasilah dengan keagungan dan kemuliaanmu di Sisi-Nya kecuali Allah SWT pasti mengabulkan permohonannya, mengampuninya dan mencurahkan anugerah-Nya. 

Alangkah tulus suci dan murninya pengabdianmu kepada Allah SWT, wahai Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam, Engkau senantiasa bertasbih, tahmid dan takbir sejak Engkau diciptakan berupa cahaya, dipunggungnya para Nabi, di rahimnya para ibu yang suci sehingga Engkaupun terlahir dalam keadaan bersujud dengan bertasbih, tahmid dan takbir kepada Allah SWT, dengan disertai cahaya yang terang benderang memenuhi angkasa dan gema tasbih, tahmid dan takbir dari para malaikat dan para bidadari dan dengan fenomena alam yang sangat luar biasa menunjukan kemuliaan dan keagunganmu di Sisi Allah SWT yang mengemban tugas suci risalah ilahi sebagai sumber Rahmat belas kasih sayang bagi alam semesta.

Alangkah besar kepedulian dan perhatianmu kepada kami, wahai Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam. Engkau curahkan segenap daya dan upaya tanpa menghiraukan segala rintangan dan derita, bahkan Engkau sebarkan anak cucumu ke seluruh penjuru dunia demi keselamatan dan kebahagiaan kami di dunia, alam kubur dan padang mahsar, bahkan Engkaupun tak akan merasa puas dan lega sehingga seluruh umatmu selamat dari neraka dan masuk surga.

Sesungguhnya hanyalah orang yang mengenal, menghayati dan menjiwai kepribadian Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam yang bisa memahami dan mengetahui keagungan dan kemuliaan Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam, sebagaimana disebutkan;

من لا يعرف لا يدرك حقيقتها

“Sesungguhnya orang yang tidak kenal maka tidak akan tahu keagungannya”

Dan juga pepatah mengatakan; "Tak kenal maka tak sayang".

Semoga kitab ini bisa bermanfaat dan menambah wawasan kita tentang kepribadian dan keagungan Beliau junjungan kita Kekasih Allah SWT Baginda Nabi Agung Muhammad Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam, sehingga kita semakin mengenal, menghayati dan menjiwai kepribadian Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam yang mulia dan agung dan tertanam dalam hati sanubari kita rasa kagum bangga dan cinta kepada Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam sehingga mudah bagi kita untuk mengikuti dan meneladani serta menjalankan ajaran suci Beliau junjungan kita Kekasih Allah SWT Baginda Nabi Agung Muhammad Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam.

Apabila kita benar-benar menjadi pengikut dan pembela setia Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam , niscaya hal itu adalah merupakan suatu kemuliaan dan kebanggaan yang agung bagi kita sebagai umatnya Baginda Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam..

Dan alangkah indahnya apabila kita membicarakan sirah/sejarah Beliau kepada anak istri kita, sanak keluarga kita, dan saudara-saudara kita umat Islam, dengan suatu perasaan yang penuh dengan kebanggaan yang tiada duanya. Bahkan sesungguhnya hal itu akan mendatangkan limpahan rahmat yang sangat deras dari Allah SWT kepada kita. Karena, hanya dengan membicarakan keutamaan orang sholih saja bisa mendatangkan rahmat dari Allah SWT sebagaimana di sebutkan di kitab At-Tamhid Lil-Imam Ibnu Abdil Baari juz 17 hlm 429 ;

قال الإمام سفيان بن عيينة : عند ذكر الصالحين تتنزل الرحمة

Yang artinya kurang lebih:“Imam Sufyan bin Uyainah berkata; "Sesungguhnya dengan membicarakan keutamaan orang sholihin akan menurunkan rahmat (belas kasih sayang) dari Allah SWT”.

Apalagi yang kita bicarakan ini adalah kekasihnya Allah SWT yang menjadi junjungan bagi seluruh penghuni alam semesta, pasti akan mengucur lebih deras limpahan rahmat Allah SWT kepada kita. Sehingga dengannya bisa mendapati ampunan atas segala dosa-dosa yang telah kita lakukan, dan juga semoga denganya bisa mendapati taufiq dan hidayah untuk melakukan amal ibadah yang diridloi oleh Allah SWT, sehingga meninggal dunia dalam keadaan husnul khotimah, serta masuk sorga Allah SWT yang dipenuhi dengan segala kenikmatan dan keindahan yang kekal abadi selama-lamanya. Aamiin.

Dan sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas, bahwa kami ingin meneruskan rangkuman sebagian dari sejarah dan keutamaan Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam yang kami awali dari lahirnya Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam, sampai menjadi Rasul Utusan Allah SWT. Bahwa sesungguhnya Baginda Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam dilahirkan di kota yang paling mulia di Sisi Allah SWT di muka bumi ini. Yaitu kota Makkah Al-Mukarromah, sebagaimana disebutkan dalam kitab Zaadul Ma’aad Lil Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziy juz 1 hlm 47;

وَمِنْ هَذَا اخْتِيَارُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِن الْأَمَاكِنِ وَالْبِلَادِ خَيْرَهَا وَأَشْرَفَهَا وَهِيَ الْبَلَدُ الْحَرَامُ فَإِنّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى اخْتَارَهُ لِنَبِيّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ(زاد المعاد للإمام إبن قيم الجوزي جزء ١ص ٤٧ )

Yang artinya kurang lebih:“Sesungguhnya Allah SWT telah memilihkan untuk kekasih-Nya tempat lahir yang paling baik dan paling mulia yaitu kota Makkah Al-Mukarromah”.

Dan dalam kitab ‘Umdatul Qori Syarakh Shahih Bukhari juz 7 hlm 257 Baginda Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam bersabda:

والله إنك لخير الأرض وأحب أرض الله إلى الله ولولا أني أخرجت منك ما خرجت( عمدة القاري شرح الصحيح البخاري ج ٧ ص ٢٥٧ )

Yang artinya kurang lebih:“Demi Allah sesungguhnya engkau (Makkah) adalah bumi yang paling mulia dan paling dicintai Allah SWT. Kalau bukan karena aku diperintah untuk keluar darimu (hijrah ke Madinah), tentu aku tidak akan keluar darimu”.

Dan perlu diketahui bahwa sesungguhnya masjid yang pertama kali dibangun di muka bumi ini adalah Masjidil Haraam sebagaimana Firman Allah SWT:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ( آل عمران ٩٦ )

Yang artinya kurang lebih:“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia “ (Q.S.Aali Imraan 96)

Dan mengenai tanggal lahirnya Beliau Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam, sebagaimana disebutkan di kitab Madaarijus Shu’uud Lil Imam Nawawi Al-Bantaniy hlm 12 bahwa menurut pendapat yang unggul di kalangan ulama ahlus sunnah waljama’ah, sesungguhnya Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam lahir pada saat menjelang fajar hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah.

Dan sesungguhnya Allah SWT mempunyai kehendak agar tiada seorang makhlukpun yang melihat aurat kekasih-Nya, sehingga Beliau Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam dilahirkan dalam keadaan sudah khitan dan terputus tali pusarnya.Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Sirah Ibnu Katsir Juz 1 hlm 208:

عن ابن عباس عن أبيه العباس بن عبد المطلب رضي الله عنه قال : ولد رسول الله صلى الله عليه وسلم مختونا مسرورا( سيرة إبن كثير ج ١ ص ٢٠٨ )

Yang artinya kurang lebih:“Shahabat Abbas bin Abdul Muthalib RA berkata; Bahwa Sesungguhnya Baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam lahir dalam keadaan sudah khitan dan terputus tali pusarnya (dalam keadaan bersih dan suci )”.

Dan juga telah disebutkan di Kitab Al-Khosho’ishul Kubra Lil-Imam Jalaluddin As-Suyuthi Juz 1 hlm 91 :

أخرج الطبراني في الأوسط وأبو نعيم والخطيب وابن عساكر من طرق عن انس عن النبي {صلى الله عليه وسلم} انه قال من كرامتي على ربي اني ولدت مختونا ولم ير أحد سوأتي(الخصائص الكبرى للإمام أبو الفضل جلال الدين عبد الرحمن أبي بكر السيوطي ج ١ ص ٩١ )

Yang artinya kurang lebih:“Shahabat Anas bin Malik RA berkata bahwa Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam bersabda; “Sesungguhnya diantara kemuliaan yang Allah SWT limpahkan kepadaku adalah aku terlahir dalam keadaan sudah khitan sehingga tidak ada satu makhlukpun yang melihat auratku”. (H.R.Imam Abu Na’im , Imam Khatib & Ibnu ‘Asakir).

Bahkan ketika Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam dilahirkan, Ibunda Beliau Sayyidah Aminah RA dan Sayyidah Maryam sama sekali tidak melihat auratnya. Yang nampak terlihat hanyalah suatu cahaya yang sangat agung berkilauan. Sebagaimana yang diterangkan di kitab Nurul Mushthafa yang pertama. Dan tidak terlihat oleh Ibundanya (Sayyidah Aminah) selain Beliau Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam sudah dalam keadaan bersih rapi dengan terselimuti sutra putih di atas hamparan sutra hijau dalam keadaan bersujud mengiba ke Hadirat Allah SWT dengan mengangkat jari telunjuknya dan mengucapkan :

ألله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا

”Allah Maha Besar dengan segala Keagungan-Nya. Segala puji bagi Allah atas segala anugerah-Nya, Maha Suci Allah kekal abadi selama-lamanya”

Begitu pula ketika Baginda Shallallahu 'Alaihi Wassalam dalam asuhan Sy. Halimah RA, tidak ada seorangpun yang melihat auratnya. Karena setiap hari muncul cahaya dari langit, sebagaimana yang disaksikan sendiri oleh Sy. Halimah RA, beliau berkata:“Bahwa sesungguhnya setiap hari muncul cahaya dari langit kepada Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam dan tidak lama kemudian menghilang.”

Bahkan sesunguhnya istri-istri Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam pun tidak pernah melihat aurot Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam sebagaimana yang diriwayatkan dalam kitab Subulul-Huda War-Rosyad juz 9 hlm 72 :

روى ابن أبي شيبة والقاضي أبو بكر المروزي في مسند عائشة – رضي الله تعالى عنها – قالت: وما رأيت من رسول الله صلى الله عليه وسلم وما رأى مني.

"Sayidatuna ‘Aisyah RA berkata, “ Sesungguhnya aku tidak pernah melihat aurot Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam, dan Beliaupun tidak pernah melihat aurotku “

Intinya, mustahil bagi siapapun untuk bisa melihat aurot Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam , sebagaimana yang diriwayatkan dalam kitab Khoshoishul-Kubro juz 2 hlm 411:

وأخرج ابن سعد والبزار والبيهقي من طريق يزيد بن بلال عن علي فإنه لا يرى أحد عورتي إلا طمست عيناه

"Dari Sayidina Ali RA : Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam bersabda, ” Sesungguhnya tidak ada seorangpun yang bisa melihat aurotku kecuali sebelumnya ia akan menjadi buta “

Dan sesungguhnya haikal (fisik/jasad) Beliau Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam adalah terisi cahaya yang sangat agung dalam jiwanya, serta memancar ke seluruh tubuhnya, sehingga menjadikan Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam sebagai insan paling sempurna yang sangat anggun berwibawa dan sangat luar biasa keindahan dan ketampanannya. Bukan artinya Beliau seperti lampu, sebagaimana hal itu dijelaskan di kitab Al-Insan Al-Kaamil Lil-Imam Al-Muhaddits As-Sayyid Muhammad bin Alawiy al-Malikiy hlm 22:

أن معنى كونه صلى الله عليه وسلم نورا أي أنه جسم مشع وهذا وهم أو سوء فهم فكأنه بهذا قد جعله صلى الله عليه وسلم مصباحا وسراجا "لمبة كهربائية" وهو صلى الله عليه وسلم أجل وأكرم وأرفع وأعظم من أن يكون كذلك نعم لا مانع عندنا من أنه صلى الله عليه وسلم قد يظهر منه ضوء محسوس كما يسطع من الأجسام المضيئة المشعة ولكن هذا لا يكون دائما وإنما يكون عند الحاجة(الإنسان الكامل للإمام المحدث السيد الحبيب محمد بن علوي المالكي الحسني ص ٢٢ )

Yang artinya kurang lebih:“Sesungguhnya mengartikan bahwa Baginda Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam sebagai Nur yang jasadnya selalu mengeluarkan sinar adalah suatu pemahaman yang salah. Karena hal itu adalah menyamakan Baginda Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam seperti lampu listrik yang menyala. Padahal hakikatnya Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam sesungguhnya lebih agung, lebih mulia, lebih luhur dan lebih utama dari hal itu. Maka yang benar adalah bahwa Beliau Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam dalam dirinya tersimpan nur/cahaya agung yang terkadang keluar bersinar pada saat-saat tertentu”.

Dan juga disebutkan dalam kitab tersebut hlm 19, Al-Imam Al-Muhaddis As-Sayyid Muhammad bin ‘Alawiy Al-Malikiy berkata :

ثبت أنه صلى الله عليه وسلم قد أعطي الحسن كله ولكن هذا الجمال النبوي متوج بأمرين عظيمين الأول الهيبة الجلالية والثاني النور الضيائي ولذلك لم يفتتن به من يراه بخلاف يوسف عليه السلام فإنه مع كونه أعطي نصف الحسن إلا أنه لما رآه النسوة قطعن أيديهن وقلن حاش لله ما هذا بشرا إن هذا إلا ملك كريم

Yang artinya kurang lebih:“Sesungguhnya telah ditetapkan dalam riwayat hadis bahwa Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam telah dianugerahi Allah SWT ketampanan wajah yang paling sempurna. Namun ketampanan Beliau diliputi dua hal yang agung, yaitu; 1. kewibawaan yang sangat agung 2. cahaya yang bersinar kemilauan.

Itulah sebabnya tidak menjadikan fitnah yang mencelakakan bagi orang yang melihatnya. Berbeda dengan Nabi Yusuf AS yang dianugerahi Allah SWT separo dari ketampanan Baginda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam (Yang tidak diliputi haibah/kewibawaan sebagaimana Baginda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam), sehingga menjadikan para wanita yang melihatnya terpikat sampai mereka tak terasa mengiris-iris tangannya dengan pisau dan berkata; “Maha Suci Allah, sungguh ini bukanlah manusia biasa, tetapi Malaikat yang sangat agung”.

Dan telah diriwayatkan oleh Ibunda Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam Sayyidah Aminah RA sebagaimana yang disebutkan di kitab As-sirah An-Nabawiyyah juz 3 hlm 222 bahwa sesungguhnya setelah Sayyidatuna Aminah RA melahirkan Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam, beliau melihat Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam laksana bulan purnama dan tercium olehnya keharuman yang sangat luar biasa keluar dari tubuhnya.

Dan sebagaimana pula dijelaskan di kitab tersebut pada halaman yang sama, bahwa Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah meriwayatkan hadis dari Shahabat Anas bin Malik Radliyallahu Anhu berkata;

“Sungguh aku belum pernah mencium bau minyak misik dan ambar yang lebih harum dari bau harum yang keluar dari tubuh Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam”.

Begitu pula diriwayatkan di kitab tersebut hlm 225 Imam Muslim juga meriwayatkan hadis dari shahabat Anas bin Malik Radliyallahu Anhu bahwa suatu hari Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam datang berkunjung ke rumah kami. Beliau kemudian tidur qoilulah (waktu dluha) di tempat kami. Tiba-tiba ibuku (yakni Ummu Sulaim binti Malhan RA yang masih saudara sesusu dengan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam) mendekat ke tempat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam dan memasukkan keringat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam yang menetes kedalam botol. Seketika Beliau Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam terbangun lantas bertanya kepada Ummu Sulaim RA; “Wahai Ummu Sulaim, apa yang sedang kamu lakukan ini ?!”.Ummu Sulaim RA menjawab; “Wahai Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam, sesungguhnya saya sedang mengumpulkan tetesan keringatmu kedalam botol untuk kami gunakan sebagai wewangian/minyakan kami. Karena bau harum keringatmu melebihi segala keharuman minyak wangi”.

Begitu pula diriwayatkan di kitab tersebut hlm 225 Imam Abu Na’im telah meriwayatkan hadis dari Sayyidah Aisyah Radliyallahu Anha berkata ; “Sungguh telapak tangan Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam lebih lembut/halus dari pada sutera. Setiap Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam bersalaman dengan seseorang, niscaya bau harumnya tercium sepanjang hari pada orang tersebut. Bau harum Beliau adalah alami sebagai anugerah mukjizat dan kemuliaan dari Allah SWT. Dan setiap anak kecil yang dipegang kepalanya oleh Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam, maka dapat diketahui diantara teman-temannya dengan adanya bau semerbak yang keluar darinya”.

Begitu pula diriwayatkan di kitab tersebut hlm 222 Imam Abu Ya’la dan Imam At-Thabaraniy telah meriwayatkan hadis dari shahabat Abu Hurairah Radliyallahu Anhu bahwa ada seseorang datang menghadap kepada Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam dan berkata;

“Wahai Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam, aku akan menikahkan putriku, tolong bantu aku wahai Rasulullah ”. Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam menjawab :”Shahabatku, saat ini aku belum punya sesuatu (untuk membantumu), namun besok datanglah kamu ke sini lagi dengan membawa botol yang lebar ujung/mulutnya serta sepotong kayu”. Esoknya, shahabat tersebut datang menghadap kepada Baginda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam dengan membawa botol dan sepotong kayu. Kemudian Baginda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam mengambil botol tersebut. Dan memasukkan keringat Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam yang sangat suci dan semerbak harum baunya yang mengalir dari lengannya kedalam botol tersebut sampai penuh. Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam lantas bersabda;

“Wahai shahabatku, bawalah botol ini. Sampaikan pada putrimu agar dijadikan sebagai wewangian untuk dirinya. Kemudian shahabat tersebut melaksanakan perintah Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam. Sehingga setiap putrinya memakai wewangian tersebut, seketika bau harum semerbak memenuhi sekitar rumahnya sampai para tetangganya menamakan rumah shahabat tersebut Baitul Muthayyabin yakni rumahnya orang-orang yang baunya sangat harum”.

Begitu pula diriwayatkan di kitab tersebut hlm 225 Imam Abu Naim juga meriwayatkan hadis dari Sayyidah Aisyah Radliyallahu Anha berkata; “Sungguh Beliau Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam adalah insan yang paling tampan wajahnya dan paling bercahaya kulitnya. Tidak pernah seorangpun yang menyifati Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam kecuali pasti menyerupakan Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam dengan bulan purnama. Dan setiap Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam berkeringat, wajahnya pasti bercahaya seperti mutiara yang indah berkilauan yang baunya sangat harum sekali tiada duanya”.

Dan juga diriwayatkan di kitab Madarijus Shu’ud hlm 17, bahwa sesungguhnya di saat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam lahir, banyak dari kaum Quraisy yang menjenguk dan mengucapkan selamat atas kelahiran Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam. Begitu pulang ke rumah, keluarganya terkejut dengan bau harum semerbak darinya, dan menanyakan apakah dirinya memakai minyak wangi? Maka diapun menjawab bahwa bau semerbak harum ini bukanlah dari minyak wangi, tetapi dirinya baru saja pulang dari menjenguk Muhammad bin Abdullah .

Sesungguhnya, ini semua adalah sebagai anugerah yang sangat agung dari Allah SWT yang dilimpahkan kepada Beliau Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam dan sebagai mukjizat yang menunjukkan keutamaan dan keistimewaan Beliau Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam di Sisi Allah SWT. Bahwa sesungguhnya ketika Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam lahir, yang pertama kali menyusui Beliau adalah ibunda tercinta Sayyidah Aminah Radliyallahu Anha, yang kedua adalah Sayyidah Suwaibah Al-Aslamiyyah Radliyallahu Anha, baru kemudian Sayyidah Halimatus Sa’diyyah Radliyallahu Anha. Beliau Sayyidah Halimah Radliyallahu Anha adalah wanita yang suci nan mulia di Sisi Allah SWT yang telah dilimpahi anugerah agung dari Allah SWT dengan dipilih untuk menyusui dan merawat kekasih-Nya Baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam..

Dan pada hakikatnya Allah SWT telah menentukan pilihannya tersebut, serta menjaga kesuciannya dari perbuatan jahiliyyah. Dan Allah SWT telah melimpahkan pula kepadanya kebersihan lahir batin, semata-mata hal itu adalah demi memuliakan dan mengagungkan Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam Dan sesungguhnya daerahnya Sayyidah Halimah yang bernama Bani Sa’d yang terletak di sekitar Thoif sedang mengalami paceklik yang sangat panjang. Meskipun demikian, dengan taufiq dan hidayah dari Allah SWT, Beliau Sayyidah Halimah senantiasa ridlo, sabar dan selalu bersyukur kepada Allah SWT, sebagaimana disebutkan di kitab Nuzhatul Majaalis juz 2 hlm 79, yang artinya kurang lebih:

“Shahabat Abdullah bin Abbas Radliyallahu Anhu berkata; “Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkan malaikat-Nya untuk menyerukan panggilan; "Wahai seluruh makhluk ciptaan Allah SWT. Ketahuilah oleh kalian semua, sesungguhnya telah lahir kekasih Allah SWT Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam. Sungguh beruntung sekali makhluk yang dipilih untuk menyusui dan merawatnya” Setelah para makhluk Allah SWT mendengar seruan tersebut, maka mereka memohon kepada Allah SWT agar diizinkan untuk merawatnya, bahkan para malaikatpun sangat mengharapkan hal itu. Maka Allah SWT Berfirman: ”Ketahuilah oleh kalian semua wahai makhluk-Ku, sesungguhnya Aku telah menetapkan Halimah untuk merawat dan menyusuinya”

Dan sebagaimana telah dijelaskan di kitab tersebut bahwa kondisi Sayyidah Halimah RA sebelumnya adalah dalam keadaan miskin dan susah kehidupannya, namun Beliau tetap memperbanyaki bersyukur kepada Allah SWT, meskipun kehidupan Sayyidah Halimah RA semakin berat, makan cuma apa adanya dari tanam-tanaman yang ada di sekitarnya. Ditambah lagi beliau baru saja melahirkan anak kedua berupa laki-laki, maka kesulitan demi kesulitanpun semakin bertambah dan memuncak, sehingga beliau cuma makan sedikit sekali dalam seminggu. Dalam keadaan yang penuh dengan kesengsaraan, beliau mimpi didatangi seseorang yang menuntunnya menuju telaga air yang putih jernih melebihi susu. Sayyidah Halimah RA disuruh meminumnya. Beliau kemudian minum sampai merasa kenyang dan bertanya;

“Wahai tuan, siapakah sebenarnya anda ?” Orang tersebut menjawab; “Wahai Halimah, ketahuilah olehmu, sesungguhnya aku adalah Al-Hamd yang berbentuk sebagai manusia dikarenakan pujianmu kepada Allah SWT di saat kamu dalam keadaan sulit ataupun senang. Pergilah engkau ke Makkah, niscaya kamu akan mendapati kemakmuran dari sana.

Maka 7 hari kemudian setelah Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam lahir, Sayyidah Halimah bersama suami dan anaknya yang bernama Abdullah pergi ke Makkah untuk mencari penghasilan (merawat dan menyusui bayi).

Dan sebagaimana disebutkan di kitab Sirah Ibnu Hisyam hlm 37 Sayyidah Halimah menceritakan dirinya;“Bahwa aku, suamiku dan anakku yang masih kecil pergi ke Makkah beserta rombongan dari Bani Sa’ad untuk mencari penghasilan (merawat dan menyusui bayi). Dan hal itu terjadi pada tahun paceklik yang sangat dahsyat sehingga hewan-hewan ternak kami banyak yang mati, dan pada saat itu kota Makkah dalam keadaan subur makmur. Kemudian kami berangkat dengan mengendarai hewan keledai yang sudah tua nan kurus, serta kami bawa pula onta untuk kami perah susunya. Dan pada malam hari kamipun tak bisa tidur akibat tangisan anak kami yang kelaparan dikarenakan air susuku sudah tidak muncukupinya lagi. Apalagi air susu onta kami juga tak bisa diharapkan lagi. Kami benar-benar dalam kondisi yang sangat kritis. Hanya tersisa suatu harapan datangnya suatu pertolongan dan jalan keluar dari kesulitan kami ini. Maka, kamipun tetap berangkat ke Makkah dengan keledai tua yang tertatih-tatih dan lambat sekali, sehingga rombongan kami merasa keberatan dan payah atas lambatnya keledai kami. Akhirnya kamipun sampai juga di Makkah, dan mencari bayi yang akan kami susui.

Pada saat itu pula, Sayyiduna Abdul Muthalib (kakek Baginda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam) mendengar hatif (seruan malaikat yang diperintah oleh Allah SWT) yang menyerukan agar Beliau Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam jangan disusukan kecuali kepada Sayyidah Halimatus Sa’diyyah RA, sebagaimana disebutkan di kitab As-Sirah An-Nabawiyyah juz 1 hlm 56:

إن ابن آمنة الآمين محمد خير الأنام وخيرة الأخيار ما أن له غير الحليمة مرضع نعم الأمينة هي على الأبرار مأمونة من كل عيب فاخش ونقية الأثواب والأوزار لاتسلمنه إلى سواها أنه أمر حكيم جاء من جبار

“Sesungguhnya Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam Al-Amiin putra Sayyidah Aminah, adalah insan yang paling utama dan sebaik-baiknya pilihan Allah SWT. Tiada yang berhak untuk menyusuinya kecuali Halimatus Sa’diyyah. Dialah (Halimah) sebaik-baiknya wanita pilihan yang terjaga dari segala aib dan kejelekan, serta telah disucikan lahir dan batinnya. Janganlah sekali-kali engkau serahkan Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam selain kepadanya. Sungguh ini adalah suatu keputusan dan ketetapan dari Allah SWT Dzat Yang Maha Kuasa atas segala-galanya”.

Sesampainya Sayyidah Halimah di Makkah, maka dengan izin Allah SWT Beliau ditemukan dengan Sayyiduna Abdul Muthalib. Seketika Sayyiduna Abdul Muthalib mengetahui bahwa beliau (Sayyidah Halimah) adalah sebagian dari rombongan para wanita yang sedang mencari anak untuk dirawat dan disusuinya.

Sebagaimana disebutkan di kitab As-sirah An-Nabawiyyah juz 1 hlm 55, Sayyidah Halimah RA berkata:

“Kemudian Sayyiduna Abdul Muthalib menemuiku dan bertanya: “Siapakah sesungguhnya engkau dan dari manakah asalmu ?” Akupun menjawab: “Wahai Tuan Abdul Muthalib, saya adalah seorang wanita biasa dari kabilah Bani Sa’ad”. Beliau bertanya lagi; “Siapakah namamu ?”. Akupun menjawab lagi: “Duhai tuan Abdul Muthalib, namaku adalah Halimah”. Beliaupun kemudian tersenyum bahagia dan berkata: “Halimah dan Sa’diyyah adalah dua nama yang sangat indah sekali yang menunjukkan kemuliaan dan kebaikan dunia akhirat, maukah kamu menyusui dan merawat cucuku, niscaya engkau mendapati keberuntungan yang abadi?”. Akupun menjawab; “Wahai tuan, sungguh saya bersedia, segera pertemukan saya dengannya”.Maka wajah Tuan Abdul Muthalib semakin berbinar-binar memancarkan kebahagian yang meluap (atas tercapainya apa yang diharapkan). Kemudian Beliau mengajakku masuk ke dalam rumah Sayyidah Aminah RA. Sesampainya di sana, beliau (Sayyidah Aminah RA) menyambutku dan berkata;

“Selamat datang dan kami senang bertemu denganmu”. Kemudian beliau (Sayyidah Aminah RA) mengajakku masuk ke kamar Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam dengan sangat perlahan-lahan dan sangat hati-hati. Setelah aku melihatnya, aku sangat kagum dengan keindahan wajahnya yang sangat anggun mempesona laksana mutiara yang tiada duanya. Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam sedang tidur dengan pulas berselimutkan sutera yang sangat putih dan jernih melebihi putihnya susu dan terhampar di bawahnya sutera hijau yang sangat indah dan semerbak bau yang sangat harum menyebar dari tubuhnya. Maka akupun mendekatinya dengan sangat perlahan dan hati-hati karena khawatir membangunkan Beliau dari tidurnya. Dan dengan sangat hati-hati aku usapkan tanganku di dada Beliau. Tiba-tiba Beliau terbangun dan membuka kedua matanya dan tiba-tiba pula memancar cahaya dari kedua mata Beliau dan kemudian Beliaupun memandangku dengan senyumnya yang sangat indah. Akupun terpana dan sangat kagum, belum pernah selama hidupku aku melihat peristiwa yang sangat luar biasa seperti ini.. Akupun tak sabar lagi untuk secepatnya memegang dan memeluknya. Seketika itu pula, dengan reflek aku cium keningnya (antara kedua matanya). Aku angkat, aku gendong, aku peluk dan tiba-tiba kedua payudaraku yang tadinya sedikit air susunya, seketika menjadi penuh dan deras air susunya. Maka Akupun memberikan susu kanan kepada Beliau, dan Beliaupun meminumnya. Begitu aku pindahkan ke sebelah kiri, Beliau menolaknya. Seakan-akan Beliau memberikan isarah bahwa susuku yang kiri adalah untuk anakku Abdullah.

Sebagaimana dijelaskan di kitab tersebut tentang hal ini bahwa: Ahlul ilmi mengatakan sesungguhnya Allah SWT memberikan ilham kepada Beliau Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam, bahwa Beliau mempunyai saudara yang menyusu bersamanya, maka Beliau memberikan bagian untuknya.

Sayyidah Halimah RA berkata: “Setelah Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam merasa cukup, kemudian aku susui anakku Abdullah dengan susu kiri sampai kenyang dan tidur pulas. Padahal sebelumnya anakku tidak pernah bisa tidur pulas karena lapar. Pada saat itu pula, suamiku yang sedang menunggu di luar mendekati onta yang kami bawa. Tiba-tiba onta kami tersebut kelihatan segar, gemuk dan kantong susunya penuh dengan air susu. Kemudian ia memerah susunya untuk kami minum sampai kami merasa segar dan kenyang sekali.. Dan kamipun bisa tidur pulas di malam itu, padahal sebelumnya kami tak pernah bisa tidur pulas.

Maka, pada pagi harinya suamiku berkata: "Wahai istriku tercinta Halimah, sungguh kita telah mendapatkan bayi agung yang sangat mulia dan penuh keberkahan". Demikian pula, keledai kami yang dulunya kurus dan lemah kini tiba-tiba menjadi, gemuk, kuat, sehat dan cepat jalannya. Sayyidah Halimah berkata: "Di saat kami sekeluarga dan rombongan akan pulang, aku melihat keledaiku sujud menghadap ke ka’bah sebanyak tiga kali dan mengangkat kepalanya ke langit. Akupun lantas naik keledai tersebut dan menggendong Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam . Demi Allah, keledaiku sangat cepat sekali jalannya, tidak ada satupun yang bisa mengejarnya, sampai rombonganku pada heran dan berkata: ”Wahai Halimah binti Abi Dzuaib, kasihanilah kami, perlahanlah jangan cepat-cepat jalannya. Bukankah itu keledaimu yang dulunya lemah dan lambat jalannya ?!” Akupun menjawab: ” Benar teman-temanku. Demi Allah, sungguh inilah keledai itu”. Kemudian diantara mereka menjawab: ”Demi Allah,sungguh itu adalah suatu keajaiban yang sangat luar biasa”. Dan seketika itu juga terdengar jelas olehku keledaiku berkata dengan bahasa arab yang fasih: ”Demi Allah, sungguh Allah SWT telah melimpahiku keajaiban yang luar biasa. Allah SWT telah mengembalikan kekuatan dan semangatku, serta menjadikanku gemuk dan segar. Camkan oleh kalian semua hai kabilah Bani Sa’ad. Apakah kalian tidak sadar, siapakah sesungguhnya yang ada di punggungku ini?. Sesungguhnya Beliau adalah Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam yang menjadi Kekasihnya Allah SWT, sebagai junjungan seluruh para Nabi dan Rasul. Dan Beliaulah sebaik-baiknya seluruh makhluk Allah SWT di alam semesta ini”.

Dengan adanya beraneka ragam peristiwa ini semua, sudah dipastikan bahwa Sayyidah Halimah RA semakin memuncak kekaguman dan kebanggaannya kepada Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam. Dan sesungguhnya ibunda Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam, Sayyidah Aminah Radliyallahu ‘Anha, tentu tidak sembarangan menyerahkan buah hatinya (Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam kekasih Allah SWT) begitu saja kepada Sayyidah Halimah Radliyallahu ‘Anha. Namun Beliau semata-mata hanya melaksanakan kehendak Allah SWT dengan penuh keyakinan bahwa sesungguhnya Allah SWT pasti akan senantiasa melindungi dan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Bagimana tidak, karena sesungguhnya beliau Sayyidah Aminah Radliyallahu ‘Anha telah menyaksikan sendiri tentang keagungan putranya (Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam) dengan adanya berbagai macam mukjizat yang sangat luar biasa yang terjadi sejak sebelum dilahirkan, saat dilahirkan dan sesudah dilahirkannya Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam, sebagaimana yang tercantum dalam kitab Nurul Mushthafa yang pertama. Dengan itu semua, Sayyidah Aminah RA senantiasa merasa tenang , tentram dan ridlo hatinya atas segala sesuatu yang menjadi kehendak Allah SWT. Dan sesampainya sayyidah Halimah Radliyallahu ‘Anha di daerahnya (Bani Sa’ad), beliau melihat keajaiban-keajaiban yang sangat menakjubkan. Sebagaimana dijelaskan di kitab Sirah Ibnu Hisyam hlm 38, beliau (Sayyidah Halimah RA) berkata:

“Setelah kami sampai rumah, tiba-tiba kami melihat kambing-kambing kami telah menjadi gemuk, segar dan penuh air susunya, padahal sebelumnya dalam keadaan kurus dan daerah kami masih dalam keadaan tandus kekeringan. Maka, seketika itu pula langsung kami perah susunya dan kami minum hingga kami semua merasa kenyang.”

Dan sebagaimana telah disebutkan di kitab As-Sirah An-Nabawiyyah juz 1 hlm 58, bahwa Sayyidah Halimah RA berkata:

“Dan setelah kami masuk rumah, tiba-tiba kami mencium bau harum semerbak yang sangat luar biasa wanginya di setiap ruangan rumah kami. Maka dengan bangga aku ceritakan kepada para tetanggaku segala keajaiban yang telah aku lihat sendiri tentang kemuliaan dan keberkahan anak yang kubawa ini (Beliau Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam bin Abdullah ). Dan merekapun meyakini hal tersebut, sehingga apabila ada diantara mereka yang sakit, maka mereka meletakkan telapak tangan Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam di tempat yang sakit, sehingga dengan izin Allah SWT penyakit tersebut segera sembuh”.

Disebutkan pula di kitab As-Sirah An-Nabawiyyah juz 1 hlm 57 bahwa sesungguhnya saat Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam menginjak usia 3 bulan sudah bisa berdiri tegak. Saat Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam menginjak usia 5 bulan sudah mampu berjalan lancar. Saat Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam menginjak usia 9 bulan sudah benar-benar bisa berbicara dengan sangat fasih. Dan saat Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam menginjak usia 10 bulan sudah pandai memanah. Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam sangat cepat sekali perkembangan fisiknya, hingga begitu menginjak usia 2 tahun sudah menjadi anak yang kuat fisiknya. Dan begitulah segala macam anugerah kemuliaan dari Allah SWT selalu melimpah dan terus bertambah kepada Beliau Muhammad bin Abdullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam.

Dan sesungguhnya tidak ada seorang makhlukpun yang bisa melihat auratnya Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam, sebagaimana disaksikan sendiri oleh Sayyidah Halimah RA, sebagaimana disebutkan di kitab As-Sirah An-Nabawiyyah juz 1 hlm 57 Sayyidah Halimah RA berkata:

“Bahwa sesungguhnya setiap hari senantiasa cahaya turun dari langit kepada Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam, dan tidak lama kemudian menghilang (dengan tujuan untuk menyelimuti Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam dengan cahaya sehingga tidak terlihat auratnya, sebagaimana Sabda Baginda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam yang artinya kurang lebih: ”Sesungguhnya diantara kemuliaan yang Allah SWT anugerahkan kepadaku adalah tidak ada seorang makhlukpun yang melihat auratku").

Dan juga dijelaskan di kitab tersebut hlm 58, bahwa sesungguhnya Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam tidaklah memegang atau mengambil sesuatu kecuali membaca Bismillah. Dan disebutkan pula di kitab Madarijus Shu’ud hlm 24 bahwa sesungguhnya Sayyidah Halimah RA selama 2 tahun bersama Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam senantiasa mendapatkan berbagai macam anugerah yang sangat indah dari Allah SWT. Sehingga kehidupannya penuh dengan kebahagiaan, kesejahteraan dan kemakmuran.

Dan disebutkan di kitab As-Siroh An-Nabawiyyah juz 1 hlm 58 Sayyidah Halimah RA berkata;

"Setelah Beliau SAW berumur 2 tahun, kami membawanya ke Makkah untuk dikembalikan kepada ibundanya. Padahal sesungguhnya kami sangat menginginkan Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam menetap di tempat kami. Karena berkah Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam, yang senantiasa melimpah kepada kami. Namun karena adanya kesepakatan antara kami dan ibundanya Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam yaitu mengembalikannya setelah Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam berumur 2 tahun, maka dengan berat hati kamipun mengembalikannya".

Setelah kami sampai di hadapan ibunda Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam (Sayyidah Aminah RA), kamipun mengutarakan keinginan kami untuk kembali mengasuh Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam. Maka akupun berkata kepada Beliau Sayyidah Aminah RA;

"Ijinkanlah kami untuk mengasuhnya lagi. Dan mengembalikannya setelah Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam dewasa".

Dan tak henti-hentinya kami meminta ijin kepadanya, sehingga Beliaupun mengijinkan kami untuk mengasuhnya lagi. Dan di saat kami pulang membawa Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam, kami melewati pasar Dzil Majaz, di situlah kami berpapasan dengan dukun sesat yang berhubungan dengan setan. Saat dia melihat Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam, maka dia tercengang karena telah mengetahui tanda-tanda kenabian Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam .Bahwa Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam lah yang akan membasmi dukun-dukun dan akan memusnahkan patung-patung. Dan dengan berteriak-teriak kepada masyarakat di sekitarnya dukun tersebut berkata:

"Wahai masyarakat arab, bunuhlah anak ini sekarang juga, sebelum dia membinasakan agama kalian dan menghancurkan patung-patung sesembahan kalian dan sebelum dia mengalahkan kalian".

Akan tetapi atas perlindungan Allah SWT dan para Malaikat-Nya, mereka tidak menghiraukan teriakan-teriakan dukun tersebut. Dan tak henti-hentinya dukun tersebut meneriakkan hal itu sampai ia menjadi gila dan mati seketika. Dan secepatnya Sayyidah Halimah RA menyelamatkan Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam dan membawanya pulang ke rumahnya. Dan disebutkan pula di kitab As-Sirah An-Nabawiyyah juz 1 hlm 53 setelah Sayyidah Halimah RA sampai di rumahnya, maka diapun semakin memuncakkan perhatiannya dan selalu mengawasi dimanapun Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam berada dengan penuh belas kasih saying, dan tidak dibiarkan Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam jauh dari pandangannya. Demikianlah hari demi hari berlalu, kehidupan Sayyidah Halimah RA dan keluarganya bersama Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam mengalami ketentraman, kesejahteraan dan kedamaian.

Sampai pada suatu saat Sayyidah Halimah RA tidak melihat Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam berada di sekitarnya. Dengan perasaan cemas dan khawatir diapun mencarinya. Tidak lama kemudian dia menemukan Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam bersama dengan Syaema’ (putri kandung Halimah RA yang telah menginjak dewasa yang selalu membantunya dalam menjaga dan mengasuh Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam). Maka Sayyidah Halimah RA berkata;

“Wahai Syaema’ tidak selayaknya kamu membawa Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam keluar di bawah terik matahari yang sangat panas.” Kemudian Syaema’ pun menjawab :“Wahai Ibunda, saya tidak pernah melihat Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam kepanasan terkena terik matahari, karena kemana saja saya bawa Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam, senantiasa mega-mega menaunginya”. Sayyidah Halimah RA berkata:”Benarkah apa yang telah kamu katakan?”Maka Syaema’ pun bersumpah dan berkata:“Ya, demi Allah, sungguh yang aku katakan adalah benar”. Kemudian Sayyidah Halimah RA dengan penuh perhatian dan kasih sayangnya berdo’a;

أعوذ بالله من شر ما نحاذرعلى ابني

Yang artinya kurang lebih:“Ya Allah lindungilah anakku ini dari segala sesuatu yang aku khawatirkan”.

Kemudian diapun membawa Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam pulang ke rumahnya. Dan tak lama kemudian Sayyidah Halimah RA menyaksikan sendiri bahwa mega-mega selalu menaungi Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam, khususnya di saat terik matahari yang sangat panas. Demikianlah, bulan demi bulan berlalu, Sayyidah Halimah RA dan keluarganya bersama Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam telah mengalami berbagai macam peristiwa-peristiwa yang sangat indah yang tak ada hentinya. Sehingga tempat yang dihuni oleh mereka laksana taman dari taman-taman sorga yang selalu disejahterakan dan diindahkan kehidupannya oleh Allah SWT disertai dengan perlindungan-Nya yang sangat agung. Sebagaimana Allah SWT telah berjanji bahkan bersumpah dengan Firman-Nya dalam Al-Qur’anul-Karim yang tercantum dalam surat Ad-Dluha bahwa sesungguhnya Allah SWT tidak akan meninggalkannyabahkan senantiasa akan melindungi dan menjaganya. Firman Allah SWT :

وَالضُّحَى (1) وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى (2) مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى (3)

Yang artinya kurang lebih; "Demi waktu dluha, dan demi malam apabila sunyi, sesungguhnya Tuhanmu tidak akan meninggalkan kamu dan tidak akan (pula) mengecewakanmu ". Q.S. Adl-Dluha: 1-3.

Dan juga disebutkan di kitab Madarijus Shu’ud hlm 15: pada saat Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam dalam kandungan ibundanya dan ayahanda Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam wafat, para malaikat berkata:“Ya Allah Tuhan dan Sesembahan kami, Nabi terkasih-Mu sekarang telah yatim, tidak punya ayah”.Maka, Allah SWT Berfirman menjawab para malaikat tersebut;

أنا وليه وحافظه وحاميه وربه وعونه ورازقه وكافيه فصلوا عليه وتبركوا بإسمه

“Ketahuilah olehmu wahai para malikat. Sesungguhnya Aku (Allah SWT) sendiri yang akan menjaga, melindungi dan merawatnya. Serta akan Aku limpahkan bantuan/pertolongan dan rezeki kepadanya. Dan Aku sendiri pula yang senantiasa akan mencukupi (segala urusannya). Maka, panjatkanlah selalu oleh kalian sholawat kepadanya dan dapatkanlah keberkahan bagi kalian dengan berwasilah menyebut namanya”

Dan sebagaimana disebutkan di kitab Madarijus Shu’ud hlm 25 pada saat Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam menginjak usia 4 tahun, Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam berkata kepada Sayyidah Halimah RA mempertanyakan saudara-saudaranya yang sedang keluar untuk menggembalakan kambing-kambingnya, kemudian Sayyidah Halimah RA menjawabnya:

‘Wahai anakku, sesungguhnya mereka sedang keluar untuk menggembalakan kambing-kambing yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada kami dengan keberkahanmu. Dan nanti saat menjelang malam mereka baru pulang”. Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam berkata:“Wahai ibundaku, kenapa engkau bedakan aku dengan mereka. Di sini aku enak-enakan di rumah, tinggal makan dan minum, sementara mereka di luar menggembalakan kambing, merasakan capek dan kepanasan”. Maka Sayyidah Halimah RA berkata:“Wahai anakku, sesungguhnya aku melakukan hal itu adalah karena cinta dan sayangku padamu. Tak rela aku ada sedikitpun sesuatu yang bisa menyakitimu. Apalagi di luar sana itu sangat berbahaya sekali. Banyak orang-orang yang jahat dan saya sangat khawatir sekali apabila mereka melihat keindahanmu dan cahaya kemuliaanmu maka mereka akan menculikmu”. Kemudian Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam berkata:

يا أماه نعم الحافظ ألله سلميني إليه وتوكلي عليه فهو نعم المولى ونعم النصير و إذا كان الله حافظي فلو اجتمع أهل الأرض لما وصلوا إلي

Yang artinya kurang lebih:‘Wahai Ibunda tercinta. Sesungguhnya hanya Allah SWT Dzat yang paling bisa menjagaku. Pasrahkanlah diriku kepada-Nya dan bertawakkallah engkau kepada-Nya. Sungguh hanya Dia semata Dzat yang paling bisa menjaga dan memberi pertolongan. Dan apabila Allah SWT telah menjagaku, walaupun seluruh penghuni bumi bersatu untuk mencelakakanku, niscaya mereka tidak akan mampu”.

Sayyidah Halimah RA berkata; “Sungguh perkataan Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam membuat aku sangat kagum sekali, dan akupun berkata kepadanya: “Wahai putraku, apa yang kau kehendaki?” Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam menjawab:“Wahai ibunda tercinta, aku ingin bersama saudara-saudaraku dalam keadaan suka maupun duka”. Sayyidah Halimah RA Berkata:“Jika begitu, maka demi cintaku padamu dan kemuliaan yang ada padamu, lakukanlah apa yang terbaik bagimu”.

Dan pada saat mereka keluar bersama Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam untuk menggembalakan kambing, maka Sayyidah Halimah RA berpesan kepada anak-anaknya, diantaranya yang bernama Abdullah/Dlomroh yang sepantaran dengan Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam, agar selalu menjaga, mengawasi dan memperhatikan Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam.

Setelah mereka pulang kembali ke rumah, Sayyidah Halimah RA berkata kepada Abdullah:“Wahai anakku, apa yang terjadi kepada Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam”. Abdullah pun menjawab: "Wahai ibundaku, sungguh adalah suatu keajaiban yang menunjukkan kemuliaan Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam. Setiap batu, pohon, cadas dan perbukitan yang Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam lewati, mereka selalu mengucapkan salam dengan bahasa arab yang fasih dan jelas. Dan setiap tempat yang Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam lewati mendapatkan keberkahan dari Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam. Dan semua binatang-binatang ternak kami tunduk dan patuh kepada Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam. Mereka berhenti apabila disuruh berhenti dan berjalan apabila disuruh berjalan”.

Dan yang lebih ajaib lagi, waktu kami melewati suatu lembah perbukitan, muncullah seekor harimau yang besar dan sangat buas. Matanya merah menyala, mulutnya terbuka, terlihat taring-taringnya yang runcing dan tajam, siap untuk menerkam. Namun begitu ia melihat Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam, tiba-tiba iapun menjadi jinak, duduk, menundukkan kepalanya, seakan ta’dhim dan patuh kepada Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam. Dan harimau itupun berkata dengan bahasa Arab yang fasih:

السلام عليك يا محمد

"Salam sejahtera semoga senantiasa melimpah kepadamu wahai Baginda Muhammad”.

Kemudian Beliau SAW mendekatinya tanpa ada rasa takut sedikitpun dan membisikkan sesuatu ke telinganya, dan mengisaratkan sesuatu, sehingga harimau tersebut pergi. Kemudian aku datangi Beliau SAW dan bertanya: "Wahai saudaraku, apakah yang engkau katakan kepadanya?”. Beliau SAW menjawab : "Janganlah kamu datang lagi kemari, dan janganlah kau ganggu daerah kami". Maka harimau itupun menyanggupinya dan pergi".

Dan sesungguhnya, peristiwa-peristiwa tersebut adalah sangat mudah bagi Allah SWT, apalagi demi untuk melindungi dan memuliakan kekasih-Nya yang sangat mulia di Sisi-Nya.

Dan disebutkan dalam kitab Madaarijus Shu’ud hlm 24 bahwa sesungguhnya terjadinya peristiwa "Syaqqush Shadri" (dibelahnya dada Beliau SAW oleh para malaikat) pada saat usia Beliau SAW 4 tahun, dan juga disebutkan di kitab As-Sirah An-Nabawiyyah juz 1 hlm 58 bahwa Sayyidah Halimah RA berkata:

“Pada saat Beliau SAW bersama dengan saudaranya Abdullah menggembala kambing di sekitar rumahku, tiba-tiba Abdullah lari dengan sangat kencang mendatangiku dengan muka yang sangat pucat dan keringat dingin bercucuran menunjukkan kecemasan dan ketakutan, sambil menangis dia berteriak-teriak:“Wahai Ibuku, Wahai Bapakku, cepat tolonglah saudaraku (Beliau SAW), jangan sampai terlambat. Aku tak ingin Beliau SAW celaka.” Kemudian aku (Halimah RA) berkata:“Apa yang terjadi wahai anakku”. Abdullah menjawab:“Saat kami menggembala kambing, tiba-tiba datang dua orang yang berpakaian putih-putih, kemudian membawa Beliau SAW ke atas bukit”.

Dan dengan spontan Sayyidah Halimah RA dan suaminya bangkit lari mengejar keberadaan Beliau SAW sambil berteriak-teriak meminta bantuan orang-orang di kampungnya. Dan peristiwa tersebut, juga diriwayatkan sendiri oleh Beliau SAW, sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab tersebut hlm 61, bahwa Beliau SAW bersabda yang artinya kurang lebih:“Bahwa sesungguhnya, pada saat terjadinya peristiwa tersebut, ibuku (Sayyidah Halimah RA) dan suaminya bersama para rombongan berlari menuju arah keberadaanku di atas bukit yang mana pada saat itu Malaikat Jibril AS dan Malaikat Mikail AS sedang membelah dadaku yang tanpa aku merasakan cemas ataupun sakit, dengan tujuan untuk mengisi ke dalam jiwaku berbagai macam anugerah yang sangat agung. (Sebagaimana yang disebutkan oleh Sayyiduna Al-Imam Al-Habib Ali Al-Habsyiy di Maulid Simtud Duror :

وما أخرج الأملاك من قلبه أذى ولكنهم زادوه طهرا على طهر

Yang artinya kurang lebih:“Sesungguhnya para malaikat tersebut tidaklah mengeluarkan sesuatu dari diri Beliau SAW akan tetapi sesungguhnya mereka telah menambah kesucian di atas kesucian pribadi Beliau SAW”.Setelah peristiwa tersebut selesai aku (Nabi SAW) dan para malaikat dari kejauhan mendengar teriakan ibuku (Sayyidah Halimah RA) yang sedang berlari menuju ke arahku dengan berkata :

وا ضعيفاه

Yang artinya kurang lebih;“Sesungguhnya anakku (Beliau SAW) masih kecil dan lemah, maka janganlah diganggu”Dengan seketika para Malaikat tersebut memelukku dengan penuh belas kasih sayang dan mencium kepalaku dan juga keningku sambil berkata:

حبذا أنت من ضعيف Yang artinya kurang lebih:

“Bukanlah engkau anak yang lemah, karena engkau adalah kekasih Allah SWT”.Tak lama kemudian terdengar ibuku berteriak lagi:

وا وحيداه

Yang artinya kurang lebih:“Sesungguhnya anakku sendirian tidak ada yang melindunginya, tolong janganlah diganggu”.Dengan seketika pula para Malaikat tersebut memelukku dengan penuh kasih sayang dan mencium kepalaku dan juga keningku sambil berkata:

حبذا أنت من وحيد وما أنت بوحيد إن الله معك وملائكته والمؤمنين من أهل الأرض

Yang artinya kurang lebih:“Sesungguhnya engkau wahai kekasih Allah SWT tidaklah sendirian bahkan Allah SWT bersama para Malaikat-Nya dan semua orang yang beriman selalu bersamamu”.Dan tidak lama kemudian, terdengar lagi ibuku berteriak;

وا يتيماه استضعفت من بين أصحابك فقتلت لضعفك

Yang artinya kurang lebih:“Tolong janganlah diganggu, sesungguhnya Dia adalah anak yatim yang paling lemah diantara kita. Sungguh sangatlah mudah terbunuh dikarenakan kelemahannya”.

Dan seketika pula para Malaikat tersebut memelukku dengan penuh kasih sayang dan mencium kepalaku dan juga keningku sambil berkata:

حبذا أنت من يتيم ما أكرمك على الله لو تعلم ما أريد بك من الخير أقرت عينك

Yang artinya kurang lebih:“Alangkah mulianya engkau sebagai anak yatim, sungguh engkau sangat mulia di Sisi Allah SWT. Sesunggughnya jika engkau tahu kebajikan apa yang Allah SWT kehendaki kepadamu sungguh engkau akan merasa sangat senang dan bahagia”.Kemudian setelah mereka sampai di kaki bukit, ibuku (Sayyidah Halimah RA) melihatku dan dengan mendaki bukit tersebut beliau berkata:

لا أراك إلا حيا بعد

Yang artinya kurang lebih:“Sungguh saya kira engkau telah meninggal dan aku tidak bisa melihatmu lagi”.Kemudian ibuku mendatangiku dan memelukku dengan penuh kegembiraan atas keselamatanku. Kemudian Beliau SAW bersumpah :

فو الذي نفسي بيده إني لفي حجرها قد ضمتني إليها ويدي في أيديهم ( يعني الملائكة ) والقوم لا يبصرونهم

Yang artinya kurang lebih:“Demi Dzat yang menguasai diriku, sesungguhnya pada saat aku dalam pelukan ibuku, para malaikat masih memegang tanganku, namun mereka (ibuku dan rombongannya) tidak melihatnya”.

Dengan peristiwa yang sangat aneh tersebut, sebagian dari kaum Bani Sa’ad menyarankan kepada Sayyidah Halimah RA dan suaminya untuk membawa Beliau SAW ke dukun, karena mereka menganggap apa yang terjadi pada Beliau SAW adalah akibat dari gangguan jin. Seketika itu Beliau SAW bersabda:

يا هؤلاء مابي مما تذكرون شيء إن آرابي (أي أعضائي) سليمة وفؤادي صحيح وليس بي قلبة (أي علة)

Yang artinya kurang lebih:“Wahai kalian semua, sesungguhnya aku tidak terkena seperti apa yang kalian duga. Bukankah kalian telah melihat sendiri bahwa anggota tubuhku dan akalku dalam keadaan sehat?. Sungguh tak ada sedikitpun sesuatu yang aku derita.”Kemudian bapakku (suami Sayyidah Halimah RA) berkata:“Wahai kaumku, apakah kalian tidak mendengar apa yang telah dikatakan oleh anakku ini?. Sungguh semua perkataannya sangat normal dan saya berharap semoga saja anakku ini tidak terkena apa-apa”.Namun penduduk tersebut tetap sepakat membawaku ke dukun untuk diperiksa. Begitu sampai di tempat dukun, mereka menceritakan keadaanku pada dukun tersebut. Tetapi dukun tersebut menyuruh mereka diam dan memintaku untuk menceritakan sendiri peristiwa yang baru saja aku alami. Dan begitu aku selesai menceritakan semua peristiwa yang baru saja aku alami, (disitulah dukun sesat tersebut telah mengetahui rahasia kepribadian Beliau SAW). Tiba-tiba dukun tersebut menyekapku dan berteriak dengan keras:

“Wahai penduduk Arab semua, sungguh malapetaka sebentar lagi akan datang. Bunuhlah segera anak ini dan bunuh pula aku bersamanya. Demi Tuhan Lata dan Uzza, apabila anak ini kalian biarkan menjadi besar, niscaya akan membawa agama baru yang mengganti agama kalian semua. Dia akan menganggap kita dan nenek moyang kita adalah orang-orang yang bodoh tak berakal. Dia akan bertentangan dengan seluruh urusan kalian. Sungguh dia akan membawa agama baru yang belum pernah kalian dengar sebelumnya”.

Seketika itu juga dengan secepatnya ibuku (Sayyidah Halimah RA) merebut aku dari dekapan dukun tersebut, dan sambil berkata dengan lantang kepadanya:“Sesungguhnya yang terkena gangguan adalah kamu. Dan perkataan kamu adalah perkataan orang yang tidak waras. Jika aku tahu kamu akan berkata begini, maka kami tidak akan mendatangimu. Jika kamu ingin mati, carilah sendiri orang yang membunuhmu. Kami tidak mungkin untuk mencelakai anak yang kami cintai ini”.

Dengan seketika pula, ibuku dan rombongannya membawaku pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku merenung dengan penuh takjub atas segala peristiwa yang terjadi antara aku dengan para malaikat. Dan bekas belahan Malaikat tersebut masih terlihat membekas diantara dada dan pusarku.

Dan disebutkan dalam kitab As-Sirah An-nabawiyyah juz 1 hlm 58 Sayyidah Halimah RA berkata:

“Sesampainya kami di rumah, setelah terjadinya peristiwa tersebut, suamiku berkata:“Wahai istriku Halimah, lebih baik anak ini kita pulangkan saja ke ibundanya, sebelum terjadi sesuatu kepadanya, dan kita akan selamat dari pertanggung jawaban”.Dan secepatnya kamipun membawa Beliau SAW ke Makkah untuk dikembalikan kepada ibundanya Beliau SAW, walaupun sesampainya di sana sudah malam.. Dan telah diriwayatkan dalam kitab tersebut, bahwa sesungguhnya pada saat Sayyidah Halimah RA dan suaminya bersama Beliau SAW sudah mendekati kota Makkah, tiba-tiba Beliau SAW menghilang dari pandangan mata mereka. Dengan perasaan khawatir dan cemas diapun bersama suaminya mencari Beliau SAW. Setiap tempat dan penjuru diantara gunung-gunung dan perbukitan yang ada di sekitarnya mereka datangi untuk mencari Beliau SAW. Namun mereka tidak berhasil menemukannya. Kemudian merekapun secepatnya menuju kota Makkah meminta pertolongan untuk mencari Beliau SAW. Sesampainya di kota Makkah, mereka menemui Sayyiduna Abdul Muthalib dan berkata:

“Wahai tuan Abdul Muthalib, sesungguhnya di malam ini aku datang bersama dengan cucumu Muhammad untuk kami kembalikan kepada ibundanya. Akan tetapi sesampainya kami di dekat kota Makkah, Beliau hilang dari pandangan mata kami. Demi Allah kami tidak tahu dimana sekarang Beliau berada.”Dengan seketika Sayyiduna Abdul Muthalib berdo’a dengan suara yang keras:

يارب رد ولدي محمد أردده ربي وأصطنع عندي يدا

Yang artinya kurang lebih:“Ya Allah Ya Robbi, tolong kembalikanlah anakku Muhammad. Jika Engkau mwengembalikannya, sungguh aku akan berbuat kebajikan (nadzar bersedekah)”.Seketika itu pula terdengar seruan dari langit:

أيها الناس لا تضجوا إن لمحمد ربا لن يخذله ولا يضيعه

Yang artinya kurang lebih:“Wahai penduduk Makkah, janganlah kalian panik, sesungguhnya Muhammad mempunyai Tuhan yang tidak akan mengecewakannya dan tidak mungkin meninggalkannya”Kemudian Sayyiduna Abdul Muthalib berkata:“Dimanakah kami bisa menemukannya ?”Lalu terdengar lagi seruan dari langit:

إنه بوادي تهامة عند الشجرة اليمنى

Yang artinya kurang lebih:“Sesungguhnya Dia berada di lembah Gunung Tihamah, di dekat pohon Yumna”.Dengan seketika Sayyiduna Abdul Muthalib bersama dengan Sayyiduna Waraqah bin Naufal memacu kudanya menuju tempat tersebut dan tak lama kemudian mereka menemukan Beliau SAW di bawah pohon Yumna. Lalu Sayyiduna Abdul Muthalib mendekati Beliau SAW dan berkata :“Wahai anak kecil, siapakah engkau ?”Beliau SAW menjawab:“Aku adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib”. Kemudian Sayyiduna Abdul Muthalib turun dari kudanya dan berkata:“Aku adalah kakekmu Abdul Muthalib”. Kemudian diapun menggendong dan memeluknya sambil berkata:“Demi Engkau wahai anakku, aku rela mengorbankan jiwa dan ragaku”. Kemudian Sayyiduna Abdul Muthalib naik ke kudanya dengan memangku Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam dan membawanya pulang ke Makkah. Sesampainya di Makkah Sayyidatuna Halimah RA menyambut dengan penuh kegembiraan atas keselamatan Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam. Kemudian mereka membawa Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam kepada Ibundanya Sayyidatuna Aminah RA. Dan pada esok harinya Sayyiduna Abdul Muthalib memotong kambing dan sapi serta memanggil makan penduduk Makkah untuk mensyukuri keselamatan Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam serta memenuhi janjinya.

Bersambung ke part 2

Jangan lupa like fanpage kami Indonesia bersholawat

 

Loading ....
Go to Top